You are here: Informasi Berita Menimbang Sistem Jarwo Jagung
 
 

Menimbang Sistem Jarwo Jagung

E-mail Cetak PDF

Sistem tanam jajar legowo (Jarwo) telah banyak diterapkan pada budidaya padi.  Dengan pola tanam tersebut, ternyata mampu mendongkrak produktivitas tanaman. Bagaimana dengan budidaya jagung?

 

Peneliti muda bidang genetika dan pemuliaan tanaman dari Puslitbang Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, Nuning Argo Subekti mengatakan, prinsip dasar dari sistem jajar legowo adalah merapatkan jarak tanaman dalam baris dan merenggangkan jarak antar legowo.

"Ada banyak modifikasi di lapangan sendiri yang dilakukan petani. Ada yang 2:1, 4:1 bahkan 6:1," ungkapnya. Kesemuanya itu menggunakan tanaman pinggir untuk meningkatkan produktivitas dan populasi dari komoditas.

Untuk jagung, penerapan sistem jarwo lebih diarahkan pada peningkatan intensitas cahaya matahari untuk pertumbuhan optimal.  Sistem jarwo sendiri bisa diterapkan pada lahan sawah maupun lahan kering dengan tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan sumber air yang cukup.

Anjuran populasi untuk tanaman jagung sendiri berkisar 66 ribu-70 ribu tanaman/ha. Atau jarak tanam sekitar 75 cm x 20 cm untuk 1 biji per lubang dan 70 cm x 20 cm untuk 2 biji per lubang.  Keuntungan dari jarwo sendiri, tanaman jagung dapat ditumpang sari dengan kedelai.

"Produksi kedelai bisa meningkat 50% dari biasanya," ujarnya. Selain itu, tumpang sari dengan kedelai bisa memperbaiki kesuburan lahan karena kemampuannya untuk fiksasi nitrogen dari hara jagung.

Belum Ekonomis

Untuk mengetahui kelebihan sistem jarwo pada jagung, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbang Tanaman Pangan) selama dua tahun melakukan uji dalam skala demplot. Penelitian ini meliputi keunggulan, kelemahan hingga efektivitas peningkatan produksi jagung dengan sistem jarwo. “Dari hasil pengujian beragam sistem, jarwo 2:1 memang paling bagus dari sisi peningkatan produktivitas,” ujarnya.

Dari hasil penelitian, ubinan dari tegelan mampu memproduksi sekitar 10 ton/ha. Sedangkan ubinan dari sistem jarwo 2:1 bisa mencapai 11 ton/ha. “Secara angka memang berbeda sekitar 1 ton sampai 2 ton per hektar hasilnya dari kedua sistem,” ungkapnya.

Namun, dihitung secara statistik hasil ubinan dari jarwo tidak berbeda nyata dengan sistem tegelan. Jadi dilihat dari biaya yang dikeluarkan petani, sistem jarwo ini masih belum ekonomis. Pasalnya, banyak pengeluaran yang harus ditanggung petani dengan menggunakan sistem jarwo.

Misalnya, petani memerlukan tenaga tambahan untuk bisa mengolah tanah hingga menanam bibit. Dengan sistem tegel setidaknya hanya perlu 10 orang, sedangkan hasil penelitian di lahan seluas 2 ha memerlukan tenaga kerja hingga 50 orang.

Belum lagi kebiasaan mengolah tanah dari petani yang tidak menyisir halus. Misalnya, petani di Grobogan dan Demak terbiasa mengolah tanah hanya dengan dibalik, sehingga tanah menjadi tidak rata dan sulit untuk petani mengukur secara pasti jarak jarwo.

Sebenarnya, menurut Nuning, mekanisasi alat bisa memudahkan petani melakukan teknik tanam jarwo. Namun hingga kini belum ada alat khusus untuk jarwo jagung seperti pada padi. “Jarwo transplanter sudah ada, drum seeder hanya didesain untuk padi,” katanya.

Mekanisasi alat ini bisa dilakukan jika pemerintah sudah memastikan jarwo bisa digunakan pada tanaman jagung. "Kita masih ada waktu setahun lagi untuk benar-benar memastikan jika jarwo ini memang tidak layak secara ekonomis untuk digunakan," tutupnya.

Benih Jagung Stay Green

Dalam uji coba sistem jarwo pada jagung, Puslitbang Tanaman Pangan menggunakan benih jagung hibrida stay green keluaran Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) yakni jenis BIMA 19 URI.

Peneliti muda bidang Genetika dan Pemuliaan Tanaman dari Puslitbang Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, Nuning Argo Subekti mengatakan, banyak keunggulan jagung BIMA 19-URI. Antara lain, potensi hasil tinggi 12,5 ton/ha, tahan terhadap penyakit bulai, toleran penyakit karat dan bercak daun, toleran terhadap kekeringan, tahan rebah akar/batang serta stay green (tetap hijau).

Selain itu umur tanaman ini hanya 58 hari setelah tanam (50% keluar rambut) dan 102 hari setelah tanam (masak fisiologis) dengan tinggi tanaman 213 cm. Varietas ini lebih menguntungkan jika ditanam pada lahan sawah tadah hujan.

Keragaan fisik tanaman BIMA 19-URI disukai petani karena batangnya yang kokoh, besar dan berdaun lebar, serta lebih lunak sehingga sangat disukai ternak sapi. Dengan keunggulan benih jagung tersebut, kebutuhan pakan hijauan dari daun jagung bisa sekaligus terpenuhi.