You are here: Informasi Berita Pertanian Bioindustri Kelompok Tani Ternak Ngudi Mulyo Pleret
 
 

Pertanian Bioindustri Kelompok Tani Ternak Ngudi Mulyo Pleret

E-mail Cetak PDF

Distan-PI. Sabtu (19/11) bertempat di Kelompok Tani Ternak Ngudi Mulyo, Dusun Depok, Desa Wonolelo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Kepala Dinas Pertanian DIY Ir. Sasongko, M.Si bersama dengan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian DIY Dr. Joko Pramono, MP meresmikan Model Pertanian Bioindustri Berbasis Integrasi Padi-Sapi. Hadir mendampingi Kepala Dinas Pertanian DIY dan Kepala BPTP DIY, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian DIY, Camat Kecamatan Pleret, Kapolsek Kecamatan Pleret, dan Danramil Kecamatan Pleret.

Pada kesempatan tersebut Ir. Sasongko, M.Si membacakan sambutan Gubernur DIY, bahwa pemerintah sangat concern dengan upaya swasembada daging sapi, dan Program/Kegiatan SIWAB, dengan tujuan untuk meningkatkan konsumsi daging sapi maupun susu bagi masyarakat.

“Dengan adanya program/kegiatan SIWAB ini diharapkan tidak ada sapi betina yang “nganggur”, selain sapi yang dalam masa bunting dan menyusui. Bila sapi betina tidak ada yang “nganggur” diharapkan populasi sapi semakin meningkat sehingga secara nasional populasi sapi meninggak dan swasembada daging sapi segera terwujud,”kata Ir. Sasongko, M.Si membacakan sambutan Gubernur DIY.

Pertanian bioindustri kelompok tani Ngudi Mulyo ini merupakan kelompok binaan dari BPTP DIY. Inovasi yang diberikan BPTP DIY kepada kelompok tani Ngudi Mulyo adalah pengolahan pakan ternak, pengolahan biodigester, pupuk organik padat, pupuk organik cair, budidaya ayam KUB, budidaya cacing, budidaya lele, budidaya padi jarwo super.

Kelompok ternak berjumlah 4 kelompok dengan jumlah sapi sebanyak 300 ekor dan 40 Ha sawah. Konsep bioindustri berprinsip bebas limbah dan tentunya sangat menguntungkan bagi rumah tangga petani. Limbah ternak telah dikembangkan menjadi pupuk organik cair dan padat. Untuk berbudidaya padi telah menggunakan pupuk organik, dan hama dikendalikan secara alami dengan menggunakan tanaman refugia. Saai ini biodigester ditampung dalam bak penampungan yang berukuran 50 meter kubik yang telah dimanfaatkan oleh 18 rumah tangga petani. Limbah biodigester padat dimanfaatkan untuk campuran pakan ayam dan limbah cair untu pakan ikan lele. Kelompok Wanita Tani (KWT) juga membuat bekatul menjadi bahan pangan fungsional berupa aneka kue. (Admin)