You are here: Informasi Berita Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila
 
 

Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

E-mail Cetak PDF

Distan-PI. Bertempat di Dinas Pertanian DIY, Minggu (1/10) dilaksanakan upacara untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2017. Upacara dipimpin oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan DIY (BKPP DIY) Ir. Arofa Noor Indriani, M.Si dan diikuti oleh seluruh PNS lingkup Dinas Pertanian DIY dan BKPP DIY.

Pada kesempatan tersebut Ir. Arofa membacakan Sambutan Gubernur DIY dalam rangka Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2017. Dalam rangka peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2017 DIY kali ini, maka kita dapat menggali kembali sejarah perkembangan bangsa yaitu bahwa tepatnya pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno telah mengusulkan dasar falsafah Negara Indonesia, yang istilahnya diperoleh dari ahli bahasa Mr. Muhammad Yamin sebagai “Pancasila”. Selama itu pula Pancasila telah dipandang sebagai sistem filsafat, etika moral, politik, dan Ideologi Nasional. Namun kemudian pada tanggal 30 September 1965, munculah awal dari Gerakan 30 September atau G 30 S PKI. Pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubag Pancasila menjadi ideologo komunis. Pada hari tersebut, ada enam Jenderal dan beberapa orang lainnya telah dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun berkat adanya kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan.

“Selanjutnya pada 30 September dikenal sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September atau G 30 S PKI dan pada tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk memperingati bahwa dasar Negara Indonesia adalah Pancasila, yang sakti dan tak tergantikan. Selanjutnya pada tanggal 10 November 1986 Pancasila pertama kali diperkenalkan sebagai ideology terbuka, di mana Pancasila dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman yang senantiasa dinamis dengan tanpa mengesampingkan nilai-nilai dasarnya yang tetap,”lanjut Ir. Arofa membacakan Sambutan Gubernur DIY.

Pancasila adalah jati diri Bangsa Indonesia, sebagai falsafah, ideology, dan alat pemersatu Bangsa Indonesia. Pancasila merupakan pandangan hidup, dasar Negara, dan pemersatu bangsa Indonesia yang majemuk. Kondisi ini dapat terjadi karena di dalam perjalanan sejarah dan adanya kompleksitas keberadaan bangsa Indonesia seperti adanya keragaman suku, agama, bahasa daerah, pulau, adat istiadat, kebiasaan budaya, serta warna kulit jauh berbeda satu sama lain tetapi mutlak harus dipersatukan melalui nilai dasar Pancasila.

“Tema peringatan Hari kesaktian Pancasila tahun ini yaitu “ Kerja Bersama Berlandaskan Pancasila Mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur”. Maka sudah semestinya tema ini dapat memberikan kesadaran bagi kita bersama untuk meresapi nilai-nilai luhur yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa tersebut untuk dapat merekat erat sebagai kepribadian bangsa. Hal ini sangat penting karena dengan kondisi sosiokultur yang begitu heterogen dibutuhkan sebuah ideology yang netral namun dapat mengayomi berbagai keragaman yang ada di Indonesia,” lanjut Ir. Arofa membacakan Sambutan Gubernur DIY.

Tema ini dipilih untuk mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki kepribadian yang berlandaskan Pancasila, sehingga dihormati dan disegani oleh bangsa lain. Pancasila tidak sekedar slogan, tetapi harus dipraktikkan. Pancasila akan menjadi sakti kalau Pancasila jadi kepribadian bangsa. Demikian juga dengan memperingati Hari Kesaktian Pancasila secara rutin setiap tahun, maka akan menjadi pengingat bagi kita bahwa kita sebagai bangsa Indonesia memiliki nilai-nilai luhur yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai modern.

Kita wajib untuk meningkatkan kewaspadaan nasional dan ketahanan mental ideology Pancasila. Seperti halnya kewaspadaan tantangan globalisasi, liberalisasi dan postmodernisme. Kemampuan menghadapi tantangan mendasar yang akan melanda kehidupan bangsa seperti sosial-ekonomi dan politik, bahkan mental dan moral bangsa. Maka benteng terakhir yang diharapkan mampu bertahan ialah dengan keyakinan nasional atas kebenaran dan keunggulan dasar Negara Pancasila baik sebagai filsafat hidup bangsa atau Weltanschauung, maupun sebagai dasar negara.

“Hanya dengan keyakinan nasional inilah manusia Indonesia tegak dan tegar dengan keyakinannya yang benar dan terpercaya, bahwa sistem filsafat Pancasila sebagai bagian dari filsafat Timur, mengandung dan memancarkan identitas dan integritas martabatnya. Secara filosofis-ideologis dan konstitusional berfungsi sebagai asas kerokhanian bangsa Indonesia, jiwa dan kepribadian bangsa sekaligus sumber dari segala sumber hukum Indonesia,” lanjut Ir. Arofa membacakan Sambutan Gubernur DIY.

Namun demikian, terkadang suatu teori atau konsep sangat bertentangan dengan prakteknya secara nyata. Di mana nilai-nilai luhur Pancasila telah ternoda oleh perilaku KKN, Pelanggaran Hak Asasi Manusia, usaha disintegrasi bangsa, mementingkan kelompok, serta pelanggaran terhadap keadilan sosial masyarakat.

“Untuk itulah, pembangunan terhadap kepribadian bangsa sudah menjadi harga mati pada saat ini. Karena perilaku-perilaku menyimpang yang telah membudaya hanya dapat diberantas secara tuntas dengan mengubah pola piker dan kepribadian para pelaku. Terkadang, memang sulit untuk menentukan parameter yang sesuai untuk itu. Terlebih dengan kemajemukan bangsa Indonesia, dan di sinilah kita semestinya kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa yang terkandung dalam Pancasila. Di mana sebuah dasar negara seyogyanya tidak hanya dipelajari dan dimengerti saja, akan tetapi yang lebih dari itu adalah pelaksanaannya secara nyata di dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Terlebih pada pelaksanaan pembangunan dan pemerintahan harus berlandaskan pada nilai-nilai dasar Pancasila, dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” tutup Ir. Arofa membacakan Sambutan Gubernur DIY. (admin)