Pengendalian OPT Ramah Lingkungan

Perlindungan tanaman sebagai suatu sistem, sesuai Undang-undang No 12 tahun 1996 tentang Sistem Budidaya Tanaman, mengemban amanah melaksanakan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Penerapan PHT telah mengalami perkembangan yang pesat bahkan sampai kepada penerapannya sebagai teknologi terobosan untuk memecahkan berbagai permasalahan penanganan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Penerapan PHT untuk penanganan OPT dilandasi oleh 7 prinsip dasar, yaitu (1) sifat dinamis ekosistem pertanian, (2) adanya analisa biaya-manfaat, (3) adanya toleransi tanaman terhadap kerusakan, (4) pengelolaan populasi OPT sesedikit mungkin berada di tanaman, (5) budidaya tanaman sehat, (6) pemantauan lahan, dan (7) pemasyarakatan konsepsinya (Kasumbogo Untung, 1993 ). Penerapan prinsip dasar ini menuntut kemampuan sumberdaya manusia yang terlibat, adanya kelembagaan yang baik, tersedianya standar dan mekanisme operasional yang dinamis. Sarana dan teknologi yang ada di bidang perlindungan tanaman pun terus berkembang sedemikian rupa sehingga diharapkan petugas pertanian dan masyarakat petani mengetahui dan mengikuti perkembangan tersebut.

Pengendalian OPT yang ramah lingkungan akhir-akhir ini sering menjadi wacana dalam usaha tani. Hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah dalam UU No. 12/1992 dan PP No. 6/1995 yang mengisyaratkan bahwa perlindungan tanaman dilakukan sesuai sistem PHT. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan salah satu cara pengamanan produksi dari masalah OPT dengan pengendalian yang memadukan beberapa cara pengendalian yang lebih diarahkan pada cara pendekatan-pendekatan yang mengandalkan peran agroekosistem. Pengendalian secara biologi dengan memanfaatkan agens hayati merupakan salah satu komponen PHT yang didasarkan pada pendekatan tersebut (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, 2013). Pengendalian hama dengan memanfaatkan alam dan tidak menentangnya merupakan salah satu strategi untuk mengelola pertumbuhan tanaman dan lingkungannya, sehingga memberikan keuntungan yang maksimal.

Kebijakan pembangunan yang mempertahankan kelestarian lingkungan dan kekhawatiran tentang efek yang tidak diinginkan akibat penggunaan pestisida kimia perlu didukung dengan pengendalian OPT yang didasarkan pada pertimbangan ekologi/epidemilogi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang berwawasan lingkungan. Pengendalian dengan pertimbangan kelestarian lingkungan ini mempunyai arti bahwa pengendalian yang dilakukan memiliki resiko yang kecil, tidak mengakibatkan kekebalan (resurgensi), serta tidak membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungan.

Upaya pengendalian OPT ramah lingkungan dengan menurunkan penggunaan pestisida kimia dapat meningkatkan ketersediaan agens hayati yang ada di alam. Penggunaan pestisida selain berdampak positif juga dapat menimbulkan dampak negatif bila penggunaannya kurang bijaksana, karena dapat menyebabkan resurgensi, resistensi, matinya musuh alami, dan pencemaran lingkungan melalui residu yang ditinggalkan serta dapat menyebabkan keracunan pada manusia yang dampaknya untuk jangka panjang lebih merugikan dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh. Oleh karena itu, dewasa ini perhatian pada pengendalian yang lebih ramah lingkungan semakin besar untuk menurunkan penggunaan pestisida sintetis.

Agensia hayati merupakan sarana pengendalian OPT yang sebenarnya telah tersedia di suatu ekosistem pertanaman, tetapi seringkali keberadaannya pada tingkat yang tidak memadai, sehingga seringkali menyebabkan populasi OPT cenderung semakin meningkat yang dapat menimbulkan adanya serangan OPT dari tingkat serangan rendah, sedang sampai berat. Untuk itu ketersediaan agensia hayati yang memadai pada suatu sistem, sangat menentukan keberhasilan usaha pengendalian OPT dengan memanfaatkan agens hayati. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan pengembangan agens hayati baik di tingkat petani maupun di tingkat laboratorium. Dengan pengembangan yang dilakukan secara terus-menerus akan memunculkan berbagai agens hayati yang dapat dimanfaatkan dalam pengendalian OPT ramah lingkungan ini dan efektifitas agens hayati yang sudah ada (di alam) kualitasnya stabil sehingga keseimbangan dalam ekosistem dapat terjaga dan tercapai kelestarian lingkungan yang diharapkan.

Pengendalian OPT ramah lingkungan dengan cara pengendalian hayati merupakan upaya pengendalian yang lebih aman dibandingkan dengan pengendalian menggunakan pestisida. Pengendalian OPT secara hayati merupakan salah satu komponen dalam pengendalian hama secara terpadu (PHT) dimana dengan cara hayati diharapkan terjadi keseimbangan dalam ekosistem, sehingga keberadaan OPT tidak menimbulkan kerugian secara ekonomis. Dengan pengelolaan ekosistem yang baik, peran musuh alami dapat dimaksimalkan untuk mencegah timbulnya eksplosi OPT.

Pengendalian OPT secara hayati berupaya untuk meningkatkan sumberdaya alam serta memanfaatkan proses-proses alami yang terjadi di alam. Pengendalian OPT yang ramah lingkungan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dalam jangka pendek, namun juga untuk mencapai tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka panjang. Dalam penerapan pengendalian OPT ramah lingkungan di lapangan, diperlukan kepedulian unsur-unsur terkait. Keterpaduan unsur-unsur pengambil keputusan ini sangat mendukung keberhasilan teknologi pengendalian OPT ramah lingkungan di tingkat lapang. Peluang dan prospek pengendalian OPT yang ramah lingkungan ini cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia terutama dalam mengahadapi pasar global karena teknologinya mudah dan biayanya lebih murah dibandingkan dengan pestisida.

Ditulis oleh : DAA. Pertiwi ( POPT Ahli Muda Dinas Pertanian DIY )

... DISTAN GMAP ...