Proyeksi Kerugian Hasil Petani Akibat Penggunaan Benih Padi Yang Mutunya Dibawah Standar

     Dalam kondisi ideal, keakuratan jaminan mutu benih bersertifikat sejak awal diproduksi hingga tetap terjaganya terjaganya kondisi mutu benih selama dalam peredarannya merupakan cerminan harmonisasi fungsi pengawasan mutu benih. Fungsi pengawasan mutu benih dapat dilakukan secara internal (internal quality control) oleh produsen dan/ atau  pengedar benih sendiri, atau dilakukan secara ekstyernal oleh institusi yang memiliki ketugasan dan fungsi pengawasan mutu benih (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih).  Pada prinsip dasarnya,  kebenaran mutu benih sepenuhnya merupakan tanggungjawab produsen dan atau pengedar benih (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 44 tahun 1995 pasal 30).   Namun demikian dalam proses pengawalan penyediaannya hingga  tersedia benih bersertifikat, tentunya peran aktif  pengawas benih tanaman (PBT) dalam melaksanakan tugas pengawasan mutu benih tidak dapat diarti kecilkan. Tugas PBT dari mengawal produksi benih bersertifikatserta mengawasi dalam peredaran benih sangat sarat dengan  peraturan perundangan yang tidak jarang mengundang resiko tekanan psikologis.  Tujuan akhir dari semua kegiatan yang dilaksanakan oleh PBT adalah untuk menjaga agar benih-benih yang ditanam petani terjamin mutunya dan legalitasnya dapat dipertanggungjawabkan, sehingga pada hilirnya adalah mengantisipasi agar tidak ada kerugian yang diderita petani.

     Sebagai insan perbenihan baik produsen, pengedar maupun pengawas benih tanaman harus memahami bahwa benih adalah benda hidup yang setelah mencapai masak fisiologis kondisi mutu benih cenderung menurun sampai pada akhirnya benih tersebut kehilangan viabilitasnya dan vigornya sehingga benih tersebut mati atau disebut dengan peristiwa ‘deteriorasi’. Kemunduran mutu benih  bisa disebabkan oleh dua faktor, faktor yang pertama adalah faktor‘innert’atau faktor dari dalam benih itu sendiriantara lain kondisi fisik benih, misal adanya kerusakan mekanis benih akibat panen dan pengolahan pasca panen, kadar air benih, kondisi biologis benih misal terinfeksi patogen atau OPT; dan tingkat kemasakan fisiologis benih. Faktor yang kedua adalah faktor eksternal  yaitu kerusakan yang terjadi karena faktor lingkungan yaitu temperatur dan kelembaban nisbi (RH) selama penyimpanan dan pengangkutan atau peredaran. Harrington (1972) mengungkapkan hubungan suhu dan kadar air benih, bahwa setiap penurunan suhu sebesar 50C dan setiap penurunan kadar air 1% maka masa hidup benih diperpanjang dua kalinya.  Oleh karenanya produsen dan pengedar  benih berkewajiban untuk melakukan penjagaan mutu benih baik dalam cara pengemasan, cara penyimpanan dan cara pengangkutan yang memberikan jaminan agar benih dicegah mengalami tekanan fisik, mekanis maupun cekaman lingkungan yang menyebabkan turunnya mutu benih.

Keberadaan UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertaniandi hilir memiliki fungsi memberikan pelayanan pengawasan benih dalam peredaran, yang bertujuan melindungi petani atau mengantisipasi / mencegah terjadinya kerugian di pihak pengguna benih (petani) akibat penggunaaan benih yang mutunya dibawah standar persyaratan teknis minimal yang ditentukan (dibawah standar mutu benih).  Mutu benih yang terutama langsung dilihat oleh petani adalah apabila daya berkecambahnya rendah, yang berakibat langsung terhadap turunnya produktivitas lahan.  Dalam ukuran luasan lahan kecil pengaruhnya  tidak terlalu dirasakan oleh petani, tetapi apabila diproyeksikan dengan kebutuhan benih untuk  lahan pertanian di wilayah DI. Yogyakarta dalam satu tahun,  ternyata kerugian hasil yang diakibatkan sangat besar sebagaimana ilustrasi perhitungan dibawah.

     Berdasarkan laporan hasil pengecekan mutu benih padi yang dilakukan di kios-kios pengedar benih di empat kabupaten dan satu kota di wilayah  DI.Yogyakarta selama 5 (lima) tahun  ( 2013 s/d 2017) menunjukkan hasilbahwa benih yang diuji di laboratorium yang mutunya ( baca daya berkecambahnya) dibawah standar mutu benih berturut-turut   adalah sebagai berikut :tahun 2013 (30,54) %; tahun 2014 (35,83 %); tahun 2015 (28,14 %); tahun 2016 (43,09 %) dan tahun 2017 (31,82 %). Apabila dibuat rata-rata dalam 5 tahun tersebut, benih yang beredar di DIY (baik benih produksi dalam DIY maupun yang berasal dari luar DIY) yang tidak memenuhi standar adalah sebesar 34,48 %, dikarenakan hanya memiliki daya berkecambah dibawah 80 %.  Berdasarkan statistik dari Dinas Pertanian DIY, untuk mencukupi sasaran tanam tahun 2018 dibutuhkanketersediaan benih padi sebesar 4.000 ton. Apabila diasumsikan rerata produktivitas  padi di DIY adalah 5.600 kg / Ha, dankebutuhan benih padi adalah sebesar 20 kg per ha,  serta tingkat harga GKG sebesar Rp 6.000,- per kg, maka apabila diproyeksikan dalam setahun kerugian hasil yang riil bakal diderita petani di DIY secara keseluruhan dapat dilihat dengan perhitungan sebagai berikut :

  1. Volume benih padi yang tersedia di DIY yang mutunya dibawah standar (dengan daya berkecambah ≤ 76 %) adalah sebesar = 35,54 % x 4.000.000 kg = 1.421.600 kg
  2. Sejumlah benih padi tersebut pada butir i akan digunakan untuk menanam pada lahan sawah seluas = 1.421.600 kg : 20 kg/ha = 71.080 Ha.
  3. Apabila digunakan benih yang memenuhi standar (asumsi daya berkecambahnya minimal adalah 80 %), maka dari luasan pada butir iidiperoleh hasil produksi gabah sebesar = 71.080 Ha x 80 % x 5.600 kg/ ha = 318.438.400 kg.
  4. Karena mutu benih rendah dengan DB nya hanya 76 %, maka dari luasan lahan pada butir ii hanya diperoleh hasil produksi gabah sebesar = 76/80 x 318.438.400 kg = 302.516.480 kg
  5. Apabila diasumsikan harga gabah kering giling adalah Rp 6.000,-/kg, maka kerugian hasil petani dalam setahun adalah sebesar = (318.438.400 kg – 302.516.480 kg) x Rp 6.000,-/kg = 15.921.920 kg x Rp 6.000,- = Rp 95.531.521.000,- ( Sembilan puluh lima milyar lima ratus tiga puluh satu juta lima ratus dua puluh satu ribu rupiah),

     Proyeksi kerugian sebesar tersebut adalah sangat fantastis bagi perekonomian kerakyatan pertanian di DIY, yang hampir tidak pernah disadari oleh petani secara perorangan. Melihat angka proyeksi kerugian yang sedemikian besar, maka BPSBP DIY beserta jajaran Pengawas Benih Tanaman yang memiliki fungsi dan tugas sebagian ketugasan Dinas Pertanian DIY  dibidang pengawasan mutu benih berkewajiban secara moral untuk melakukan penyelamatan atau mengantisipasi agar kerugian hasil yang diderita petani padi dapat ditekan serendah mungkin. Untuk itu beberapa langkah yang harus secara terus menerus yaitu melakukan pengecekan rutin di tingkat kios-kios pengedar benih, menyampaikan hasil pengecekan sekaligus melakukan pembinaan kepada produsen dan pengedar benih, melakukan pemantauan tindak lanjut upaya perbaikan yang dilakukan oleh produsen dan pengedar benih, menindak lanjuti dengan teguran kepada produsen dan pengedar benih yang melakukan pelanggaran, juika diperlukan berulang kali tetap melanggar maka dilakukan rekomendasi pencabutan tanda daftar.  Dengan niat mulia untuk memajukan perekonomian petani, semoga pengawas benih tanaman yang semaki  langka jumlahnya saat ini tetap memberikan kontribusi yang nyata untuk Jogjakarta Istimewa. Semoga!!!.

Sumber: Puji Yuliani, PBT Madya Daerah Istimewa Yogyakarta

... DISTAN GMAP ...