Sertifikasi Sistem Pertanian Organik Internasional

Produk pertanian Indonesia saat ini banyak diminati masyarakat dunia. Bersamaan dengan itu, tren hidup sehat juga semakin berkembang di dunia. Tidak sedikit orang yang memilih produk organik karena jaminannya yang aman dan sehat terbebas dari kontaminasi bahan kimia sintetis. Hal tersebut memberikan banyak peluang bagi komoditas pertanian Indonesia untuk mengekspor produk organiknya.

Untuk dapat menembus pasar organik di luar negeri seperti Jepang, Amerika, maupun Eropa tentunya diperlukan penyesuaian standar organik sesuai negara yang ingin dituju. Pelaku usaha atau eksportir harus memenuhi semua standar wajib yang ditetapkan sebagai penjaminan mutu, perlindungan lingkungan dan konsumen. Masing-masing negara memiliki standar yang berbeda sehingga produk pertanian Indonesia harus menyesuaikan standar sesuai dengan negara tujuan. Adapun standar yang digunakan di dunia diantaranya adalah Japan Agriculture Standard (JAS) untuk Jepang, United States Departement of Agriculture (USDA) untuk Amerika, dan Eropa Union (EU).

Secara garis besar, sertifikasi organik internasional memiliki standar produk mulai dari budidaya, penyimpanan produk, pengolahan, pengemasan hingga pengiriman harus dipastikan tidak terkontaminasi bahan kimia sintetis dan terdapat mekanisme pemisahan yang jelas antara produk organik dengan produk konvensional. Ketertelusuran serta adanya pengawasan internal dan eksternal yang dilakukan secara berkala juga menjadi poin penting dalam sertifikasi organik internasional. Dari aspek kondisi lahan, juga diwajibkan telah melalui masa konversi tanpa penggunaan bahan kimia sekurang-kurangnya selama 2 tahun.

Dalam proses sertifikasi, produk akan diambil sampelnya untuk diuji laboratorium berstandar internasional untuk mendeteksi jika ada residu pestisida maupun logam berat dalam produk. Satu saja bahan aktif yang terdeteksi dalam produk, dapat menggagalkan sertifikasi untuk seluruh lahan yang diajukan. Hal yang menjadikan sertifikasi sistem pertanian organik internsional ini berbedadi antaranya adalah masing-masing negara memiliki regulasi yang berbeda mengenai bahan aktif yang diperkenankan atau tidak serta adanya perbedaan batas maksimal residu di masing-masing negara.

Ditulis Oleh Ratriani Puspita Hastuti, STP (Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Pertama)

... DISTAN GMAP ...