Hati-hati, Serangan Tungro !

Serangan Tungro ?Apa itu? Tungro merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman padi. Penyakit ini menyebar tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi terjadi juga dibeberapa negara Asia lainnya. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi dua virus, yaitu virus bentuk batang Rice tungro bacilliform badnavirus (RTBV) dan virus bentuk bulat Rice tungro spherical waikavirus (RTSV).  Kedua jenis virus tersebut dapat berada di dalam suatu sel secara bersama-sama karena antara satu virus dengan yang lainnya tidak terjadi proteksi silang. Kedua jenis virus tersebut tidak memiliki kekerabatan serologi dan dapat menginfeksi tanaman secara bersama-sama.

Bagaimana penyebarannya? Dalam penyebarannya kedua virus penyebab penyakit tungro ini membutuhkan vectoratau pembawa/penular. Hal ini dikarenakan kedua virus tersebut tidak mempunyai alat gerak untuk berpindah dari suatu tempat ketempat yang lain. Virus tungro hanya ditularkan oleh Wereng Hijau (Nephotettix virescens ) sebagai vektor, tidak terjadi multiplikasi dalam tubuh wereng dan tidak terbawa pada keturunananya. Sejumlah species wereng hijau dapat menularkan virus tungro, namun Nephotettix virescens merupakan wereng hijau yang paling efisien sehingga perlu diwaspadai keberadaannya. Penularan virus tungro dapat terjadi apabila vektor memperoleh virus setelah mengisap tanaman yang terinfeksi virus kemudian berpindah dan mengisap tanaman sehat lainnya tanpa melalui periode laten dalam tubuh vektor.

Tanaman padi yang terinfeksi virus tungro menunjukkan gejala perubahan warna pada daun muda, yaitu menjadi kuning-oranye dan umumnya perubahan warna daun dimulai dari ujung daun, tanaman padi menjadi kerdil, jumlah anakan sedikit, dan pertumbuhannya terhambat. Ringan dan beratnya gejala yang yang tampak menunjukkan tingkat keparahan penyakit pada tanaman padi yang terinfeksi virus tungro. Tingkat keparahan penyakit tungro sendiri tergantung pada tingkat ketahanan varietas padi dan umur tanaman padi pada saat terinfeksi. Tanaman padi yang muda umumnya lebih rentan terhadap infeksi virus tungro dibandingkan tanaman tua.

Tanaman padi yang terinfeksi virus tungro menjadi kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak berwarna kecoklatan, daun yang kuning nampak sedikit melintir. Perubahan warna daun di mulai dari ujung, meluas ke bagian pangkal. Jumlah anakan atau tunas sedikit, waktu berbunga tertunda bahkan sebagian besar gabahhampa. Infeksi virus tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai pendek sehingga jumlah gabah per malai rendah. Serangan yang terjadi pada tanaman yang telah mengeluarkan malai umumnya tidak menimbulkan kerusakan fatal. Tinggi rendahnya intensitas serangan tungro ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya: ketersediaan sumber inokulum (tanaman terserang), adanya vektor (penular), adanya varietas peka dan kondisi lingkungan yang memungkinkan. Namun keberadaan vektor yang mengandung virus adalah faktor terpenting. Intensitas penyakit tungro juga dipengaruhi oleh tingkat ketahanan varietas dan stadia tanaman. Tanaman stadia muda, sumber inokulum tersedia dan populasi vektor tinggi akan menyebabkan tingginya intensitas serangan tungro. Wereng hijau dapat mengambil kedua virus dari singgang, bibit dari ceceran gabah saat panen yang tumbuh, rumput teki, dan eceng. Populasi N.virescens jarang mencapai kepadatan populasi tinggi sehingga tidak menimbulkan kerusakan secara langsung. Adanya kebiasaan pemencaran imago terutama di daerah tanam tidak serempak, meskipun populasinya rendah apabila ada sumber inokulum maka akan efektif menyebarkan tungro. Ledakan tungro biasanya terjadi dari sumber infeksi yang berkembang pada pertanaman yang tidak serempak. Secara umum hamparan tanaman padi yang terserang penyakit  tungro ini akan terlihat berwarna kuning dengan tinggi tanaman tidak merata dan tampak spot-spot tanaman kerdil.

Upaya pengelolaan hama yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

1) Waktu tanam yang tepat

Waktu tanam yang tepat dapat ditentukan dengan memperhatikan fluktuasi populasi wereng hijau dan keberadaan tungro tahunan. Waktu tanam yang tepat adalah saat tanam yang dapat menghindarkan tanaman pada saat fase rentan (≤ 30 hst) tidak bertepatan dengan tekanan tungro tinggi (populasi wereng hijau  dan keberadaan gejala tungro tinggi).

2) Pemusnahan singgang

Singgang merupakan sumber inokulum virus tungro. Agar terhindar dari infeksi virus yang berasal dari singgang, maka persemaian dilakukan paling tidak 5 (lima)  hari setelah pengolahan tanah selesai dan tidak ada lagi singgang.

3) Tanam diupayakan seawal mungkin

Dengan demikian  pada saat populasi wereng hijau mencapai puncak, tanaman padi sudah berumur > 60 hst dan lebih tahan terhadap serangan tungro.

4) Penggunaan Bibit yang sehat

Jangan memindahkan/menggunakan bibit dari daerah endemis tungro.

5) Tanam serentak

Untuk membatasi keberadaan umur tanaman yang rentan terhadap perkembangan dan penularan virus tungro dilakukan upaya tanam serentak pada hamparan seluas-luasnya/unit hamparan pengairan.

6) Pergiliran tanaman

Dilakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi/bukan inang virus tungro.

7) Penggunaan varietas tahan

Penggunaan varietas tahan sesuai dengan keadaan setempat. Varietas tahan virus tungro diantaranya adalah Tukad Petanu, Tukad Unda, Tukad Balian, Kalimas, dan Bondoyudo, serta varietas agak tahan virus tungro: yang baru dilepas tahun 2009: Inpari 8 dan Inpari 9. Penanaman varietas tahan yang sama secara terus menerus di areal yang luas akan memberikan tekanan seleksi yang tinggi bagi vektor dan virus. Hal ini akan memunculkan strain/koloni baru yang dapat  mematahkan varietas tahan. Wereng hijau dikenal cepat beradaptasi terhadap varietas tahan, dengan demikian pergiliran varietas dapat mencegah atau  menunda munculnya strain/koloni baru.

8) Sanitasi dan Eradikasi

Eradikasi dilakukan untuk menghilangkan atau menekan jumlah sumber tungro dan sekaligus menekan terjadinya penularan virus tungro lebih lanjut. Sanitasi dilakukan dengan cara mencabut dan membenamkan tanaman terserang, turiang/singgang dan rumput yang menjadi inang.

9) Pengendalian vektor

Aplikasi insektisida di persemaian dapat juga dilakukan apabila nilai indeks tekanan tungro > 75, dan pada pertanaman apabila saat berumur < 3 mst ditemukan 2 rumpun tanaman terserang tungro per 100 rumpun, disamping itu terus dilakukan sanitasi terhadap tanaman sakit.

Ditulis oleh: DAA. Pertiwi ( POPT Ahli Muda )
Sumber:
– Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.
– Berbagai sumber.

... DISTAN GMAP ...