Mengenal Kumbang Moncong pada Tanaman Anggrek

Dewasa ini perhatian masyarakat terhadap tanaman hias semakin meningkat dari tahun ke tahun. Minat masyarakat untuk membudidayakan tanaman hias secara komersial juga meningkat sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan luas area dan jumlah petani tanaman hias di berbagai daerah sentra.

Di dalam pengembangan tanaman hias terdapat beberapa kendala yang menghambat keberhasilannya, antara lain serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Dalam pengendalian OPT tersebut, umumnya petani masih mengandalkan penggunaan pestisida kimia. Namun, seringkali hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan, bahkan biaya usahatani yang dikeluarkan sangat tinggi dan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Salah satu OPT Utama yang sering menyerang tanaman Anggrek adalah Kumbang Moncong. Kumbang Moncong Orchidophilus aterrimus Wat merupakan hama yang sangat merugikan bagi petani tanaman Anggrek. Kumbang Moncong ini berwarna hitam kotor / tidak mengkilap. Ukuran tubuhnya antara 3,5 mm – 7 mm. Pada fase larva, pupa sampai dengan fase dewasa berlangsung dalam umbi semu. Tanaman inang hama ini adalah Anggrek Epifit Arachnis sp, Cattleya sp, Coelogyne sp, Dendrobium sp, Cymbidium sp, Paphiopedilum sp, Phalaenopsis sp, Vanda sp, dll. Gejala serangan yang ditimbulkan oleh hama ini, umumnya adalah daun berlubang, terdapat lubang gerekan pada umbi semu. Gejala lanjut daun menjadi busuk.

Gejala Serangan Pada Anggrek Vanda dan sejenisnya, serangan terjadi di daun pucuk yang menyebabkan bercak daun. Kumbang dewasa memakan daun muda. Larva menggerek daun dan memakan jaringan dalam batang, sehingga daun – daun menjadi kuning. Serangan pada titik tumbuh akan mematikan titik tumbuh.

Pada Anggrek Dendrobium dan sejenisnya, setelah menyerang pucuk selanjutnya ke semua

batang sehingga tanaman mati. Larva juga menggerek umbi dan pucuk.

Upaya pengendalian OPT tanaman hias khusunya tanaman Anggrek ini hendaknya dilakukan sesuai system PHT. PHT adalah suatu system pengelolaan populasi hama yang menggunakan semua teknik pengendalian yang sesuai secara kompatibel untuk mengurangi populasi hama dan mempertahankan tetap di bawah tingkat kerusakan secara ekonomi. Dalam penerapan PHT penggunaan pestisida kimia merupakan tindakan yang terakhir, artinya terlebih dahulu menggunakan cara-cara pengendalian non kimiawi. Apabila cara tersebut tidak efektif, baru penggunaan pestisida kimia sebagai alternatif terakhir. Penggunaan pestisidapun harus diupayakan efektif dan efisien sedemikian rupa sehingga sekecil mungkin pengaruh yang ditimbulkan bagi manusia dan lingkungan.

Upaya pengendalian hama yang dapat dilakukan dengan penerapan PHT pada tanaman Anggrek ini adalah sebagai berikut :

  1. Desinfeksi media tumbuh dengan uap air panas agar tanaman bebas dari OPT yang dapat ditularkan melalui media tumbuh.
  2. Bilamana dijumpai serangga hama dalam jumlah terbatas, maka secara mekanis pada pagi hari dan sore hari kumbang moncong dimatikan dengan jari-jari tangan.
  3. Sanitasi sampah dan gulma, agar hama tidak mempunyai kesempatan untuk bersarang dan bersembunyi.
  4. Pada bagian tanaman yang menunjukkan gejala serangan, dilakukan sanitasi bagian tanaman yang sakit dengan memasukkan kedalam kantong plastik dan dimusnahkan, hal ini penting untuk mencegah pathogen agar tidak menyebar.

Pemeliharaan tanaman yang baik dapat meningkatkan kesehatan tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh lebih subur. Penyiraman, pemupukan dan penambahan atau penggantian media tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penyiraman dapat dilakukan apabila diperlukan dan sebaiknya pada pagi hari, sehingga siang hari sudah cukup kering. Udara dalam pertanaman sebaiknya dijaga tidak terlalu lembab. Jarak tanam yang terlalu rapat menyebabkan kelembaban tinggi sehingga perlu pengaturan jarak tanam / penempatan pot. Tanaman yang baru atau diketahui menderita penyakit, diisolasi selama 2 – 3 bulan sampai diketahui bahwa tanaman tersebut betul-betul sehat. Tanaman yang akan dibudidayakan sebaiknya juga berasal dari induk yang telah diketahui bebas penyakit. Penggunaan pestisida kimiawi adalah yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian. Apabila pestisida tersebut belum terdaftar untuk OPT sasaran, dapat digunakan pestisida yang diijinkan untuk OPT sejenis pada tanaman lain. Sebaiknya penggunaan pestisida dilakukan pada pagi hari dan tidak pada waktu hujan, dengan menggunakan alat pelindung. Teknik aplikasi yang tepat yaitu menggunakan nozzle yang halus sehingga dapat menjangkau ke seluruh bagian bawah daun. Bekas atau wadah pestisida yang digunakan harus dimusnahkan. Sebagai pencegahan dari berbagai masalah hama, pot atau wadah lainnya, alat-alat seperti pisau atau gunting stake sebaiknya setiap kali memakai didesinfektan terlebih dahulu.

Sumber :

  • Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementrian Pertanian.
  • Laporan SLPHT Anggrek Kota Yogyakarta, UPTD BPTP DIY.
  • Berbagai Sumber.

Ditulis Oleh: DAA. Pertiwi ( POPT Ahli Muda Dinas Pertanian DIY )

... DISTAN GMAP ...