Sekolah Lapangan Iklim Skala Kelompok

Iklim adalah unsur utama yang berpengaruh dalam sistem metabolisme dan fisiologi tanaman, sehingga perubahan iklim global akan berdampak buruk terhadap keberlanjutan ketahanan pangan. Selain menurunkan produktivitas terutama akibat terjadinya banjir dan kekeringan, pergeseran musim dan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim, global warming juga menjadi penyebab penciutan dan fluktuasi luas tanam serta memperluas areal pertanaman yang akan gagal panen, terutama tanaman pangan dan tanaman semusim lainnya. Oleh sebab itu perubahan iklim dan kejadian iklim ekstrim seperti El-Nino dan La-Nina akan mengancam ketahanan pangan nasional, dan keberlanjutan pertanian pada umumnya. Sebagai gambaran, satu kali kejadian El-Nino (Lemah-sedang) dapat menurunkan produksi padi nasional sebesar 2-3%. Jika iklim ekstrim diikuti oleh peningkatan suhu udara maka penurunan produksi padi akan lebih tinggi.

Salah satu dampak perubahan iklim global yaitu bergesernya awal musim hujan, dimana hal ini akan berdampak sangat besar untuk para petani. Untuk itu informasi ramalan akhir musim hujan atau awal musim kemarau, sangat diperlukan untuk menentukan musim tanam berikutnya.

Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat petani akan dampak perubahan iklim, pemahaman terhadap prilaku iklim (hujan) dan upaya penyesuaian pola tanam dan jadwal tanam, diperlukan Sekolah Lapangan Iklim yaitu sekolah informal bagi para petani yang belajar mengenai iklim secara mandiri melalui proses mengalami, berbagi pendapat, menarik kesimpulan dan menentukan langkah aksi yang akan melahirkan pengalaman baru yang ditularkan ke petani lain. Kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) ini adalah mengaktifkan dan menguatkan kegiatan-kegiatan perlindungan tanaman khususnya pemantapan pengamatan dampak perubahan iklim (DPI) yang terjadi akhir-akhir ini.

Sekolah Lapangan Iklim (SL-Iklim) merupakan metode penyuluhan untuk mengimplementasikan berbagai upaya dalam meminimalkan kehilangan hasil akibat terjadinya Dampak PerubahanIklim (DPI) utamanya untuk banjir dan kekeringan. Adopsi peserta terhadap informasi iklim dan dampak perubahannya akan memberikan peningkatan dan tambahan pengetahuan, dimana efektivitas dari informasi itu akan mempengaruhi kepuasan peserta dalam pemahaman terhadap pentingnya informasi tersebut dan sejauh mana manfaat atau keuntungan ekonomi yang akan diperoleh apabila informasi tersebut digunakan. Oleh karena itu membangun pengetahuan tentang iklim dan bagaimana memanfaatkannya dalam mendukung kegiatan mereka menjadi sangat penting.

SLI adalah suatu metode pendekatan penyuluhan yang diselenggarakan dengan cara pendekatan Pendidikan Orang Dewasa (POD) yang dicirikan oleh partisipatif, belajar dari pengalaman, diselenggarakan di lapangan dengan kurikulum system evaluasi belajar dan sertifikasi. Dengan SLI proses usahatani dapat berjalan selaras dengan perilaku iklim lokal dan berhasil menghindari resikonya, sehingga mendukung pengamanan produksi dan peningkatan produktivitas.

Tujuan SLI adalah meningkatkan pengetahuan dan kemampuan petani dalam memanfaatkan informasi iklim untuk melakukan antisipasi dan adaptasi perubahan iklim dalam kegiatan budidaya tanaman dan meningkatkan kemampuan petani dalam penanganan dampak kejadian iklim ekstrim (banjir dan kekeringan) di lahan usahataninya sehingga dapat mengurangi resiko kehilangan hasil.

SLI merupakan sebuah cara dan atau solusi untuk mengelola usahatani dengan memahami informasi iklim untuk menekan dampak perunahan iklim. Prinsip tersebut dapat digunakan dimana saja disesuaikan dengan daerah spesifik lokasi. Seperi budidaya tanaman yang disesuaikan dengan kalender tanam setempat, pengelolaan pengairan/jaringan irigasi, pemilihan bibit yang sehat dari varietas yang tahan banjir/kekeringan/salinitas serta pemanfaatan lahan rawa. Juga pelestarian/konservasi alam/lingkungan dengan cara membuka lahan tanpa membakar, memelihara dan menanam pohon, serta memeliharaan keseimbangan lingkungan. Hal yang tidak terlupakan yaitu pengamatan berkala unsure iklim yaitu mengamati kondisi suhu, kelembaban, curah hujan dan air tanah, mempelajari hubungan kondisi alam dengan perkembangan OPT serta menganalisa keadaan untuk mengambil keputusan dalam pengelolaan budidaya tanaman.

Adapun ketentuan didalam pelaksanaan SLI yaitu berada di daerah yang rawan dampak perubahan iklim, dimulai sejak hari H-10 sampai 1 musim tanam berakhir, pertemuan dilakukan sebanyak 13 kali, jumlah peserta 25 orang aktif diupayakan dengan komposisi 60% pria dan 40% wanita, peserta sanggup mengikuti SLI selama 1 musim tanam, responsive terhadap inovasi baru dan peserta aktif melakukan kegiatan pertanian di lahan usahataninya.

Kegiatan SLI dilaksanakan dengan menggunakan metode pembelajaran yang bersifat partisipatory (teori dan praktek). Prose belajar dilaksanakan berdasarkan siklus belajar, mulai dari mendapatkan pengalaman, mengungkapkan, diskusi, menganalisa, mengumpulkan, dan menerapkan. Kurikulum dirancang berdasarkan analisis ketrampilan lapangan yang dimiliki oleh seorang petani untuk menjadi ahli dilahannya sendiri, dan mampu menularkannya kepada para petani lainnya. SLI terpola dalam siklus berkala, dimana setiap unsure iklim dikaji secara sistematis dan mendalam. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa perubahan keadaan agroklimat dikaji secara utuh untuk merencanakan pengelolaan ekosistem ke depan.

Sumber :
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementrian Pertanian.
UPTD BPTP DIY.

... DISTAN GMAP ...