Tyto Alba Pengendali Tikus yang Efektif

Siapa yang tidak kenal tikus?  Hewan ini mudah ditemui disekitar kita, baik di lingkungan rumah maupun di area pertanian atau perkebunan. Keberadaannya selalu menimbulkan gangguan yang cukup berarti. Apabila tikus muncul dan berkembang biak di area pertanian atau perkebunan, hewan ini bisa menjadi hama yang sangat menakutkan bagi petani, Kehadirannya harus dikendalikan agar tanaman dapat diselamatkan dari serangannya dan kehilangan hasil akibat serangan hama tikus ini dapat ditekan seminimal mungkin.

Tikus termasuk binatang yang sangat aktif, cerdik dan berumur relatif panjang. Tikus mampu beradaptasi terhadap berbagai kondisi alam lingkungan (iklim, topografi, dan vegetasi).  Habitat hidup tikus tidak menetap karena selalu berimigrasi dari suatu tempat ke tempat lain sesuai dengan ketersediaan bahan pangan.  Perkembangan tikus secara umum mencapai puncaknya, pada saat makanan tersedia penuh, misalnya tersedianya bulir padi sampai masa panen atau pola tanam yang tidak serempak sehingga ketersediaan pangannya selalu tersedia. Secara teoritis, tikus mampu berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun dari satu pasang ekor tikus saja. Walaupun keadaan ini jarang terjadi, tetapi hal ini menggambarkan, betapa pesatnya populasi tikus dalam setahun.

Ketika lahan sedang bero atau pada saat pengolahan tanah, tikus akan segera berpindah ke tempat lain yang masih tersedia bahan pangan untuknya.  Di tempat yang baru, tikus tersebut akan segera menyesuaikan diri dan membangun tempat tinggal. Tikus membuat sarang di pematang-pematang, di semak-semak atau di pekarangan. Sebagai binatang pengerat, tikus dalam memenuhi kebutuhan hidupnya mengerat batang padi dengan perbandingan 5:1, yakni 5 batang padi dikerat hanya untuk mengasah giginya supaya tidak tambang panjang, dan 1 batang padi di makan untuk kebutuhan hidupnya.

Lalu bagaimana dengan upaya pengendaliannya ?  Berbagai cara pendekatan telah banyak diupayakan dalam mengendalikan hama tikus ini. Mulai dari pengasapan yang dikombinasi dengan gropyokan, pengunaan racun tikus (rodentisida) hingga metode yang alami, yaitu dengan memanfaatkan kehadiran ular. Namun pada kenyataannya sampai saat ini penekanan pengendalian masih tertumpu kepada keampuhan penggunaan rodentisida kimia.

Serangan tikus sawah (Rattus Argentiventer) perlu penanganan serius, karena menimbulkan kerugian besar. Hama tikus sulit untuk dikendalikan, karena pengendalian tikus pada umumnya dilakukan petani secara individu, tidak serempak dan tidak secara bersama-sama dalam satu hamparan/wilayah. Petani dalam mengendalikan hama tikus sering terlambat, bila sudah terjadi serangan hama tikus baru dilakukan pengendalian hama tikus.

Upaya pengendalian dengan berbagai cara harus dilakukan karena habitat tikus yang komplek. Selain itu pengendalian tikus harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan. Proses reproduksi dan sifat serangan tikus yang relatif sangat cepat, perlu upaya pengendalian dengan sistim terpadu. Dengan sistim ini diharapkan populasi tikus dapat ditekan.

Salah satu komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah pemanfaatan musuh alami dengan Burung Hantu jenis Tyto alba. Burung predator tikus, Tyto alba terbukti efektif mengendalikan hama tikus ini. Pengendalian hama menggunakan musuh alami dengan memanfaatkan burung hantu ini memiliki banyak keuntungan. Selain tidak mengotori lingkungan dengan racun ataupun zat polutan lainnya, musuh alami ini dengan senang hati bekerja sendiri sementara kita bisa tidur nyenyak menanti hasil kerjanya. Asalkan dijaga/dilestarikan dengan baik musuh alami juga akan tumbuh dan berkembang sehingga semakin hari bukan semakin habis tetapi akan semakin berkembang, tidak seperti pestisida yang semakin lama justru akan semakin menumpuk dan meracuni lingkungan hidup kita.

Dideskrepsikan oleh seorang naturalis Italia bernama Giovanni Scopoli tahun 1769, Klasifikasi Tyto Alba adalah sebagai berikut :

  • Filum                     : Chordata
  • Kelas                     : Aves
  • Ordo                      : Strigiformes
  • Famili                    : Tytonidae
  • Upafamili               : Tytoninae
  • Genus                    : Tyto
  • Spesies                  : Tyto alba

Burung Hantu jenis Tyto Alba ini adalah burung predator yang ganas yang struktur tubuhnya membuatnya mampu selalu mengejut mangsanya.  Mampu mendeteksi mangsa dari jarak jauh dan mampu terbang cepat dengan sunyi sehingga mangsanya tidak menyadari dalam bahaya terkamannya.  Kemampuannya untuk mendeteksi mangsa dari jarak jauh dan kemampuannya menyergap dengan cepat tanpa suara serta sifatnya sebagai hewan nocturnal (mencari makan di malam hari) membuatnya menjadi predator ideal untuk tikus-tikus. Penglihatannya sangat tajam di mana dia dapat melihat mangsanya dari jarak jauh. Hidupnya berkelompok dan cepat berkembang biak. Induk burung hantu mampu bertelur 2 -3 kali dalam setahun. Sekali bertelur bisa mencapai 6 – 12 butir dengan masa mengerami selama 27 – 30 hari.

Tikus menjadi salah satu makanan spesifik burung hantu. Burung hantu dewasa bisa memangsa tikus 2 – 5 ekor tikus setiap harinya, jika tikus sulit didapat, tak jarang burung ini menjelajah kawasan berburunya hingga 12 km dari sarangnya. Makanan Utama Burung hantu ini 99,41 % adalah Tikus. Hebatnya, dia memiliki pendengaran sangat tajam dan mampu mendengar suara tikus dari jarak 500 meter. Burung ini tidak berbahaya bagi manusia, justru sebenarnya membantu mengendalikan sejumlah hama, seperti tikus yang sangat merugikan bagi manusia.

Manfaat kehadiran burung hantu ini sangat terasa dan cara ini terbilang ramah lingkungan dan sangat efisien. Keterbatasan dan Kesulitan Penerapan Teknologi Tikus di Lapangan serta keterbatasan sarana, prasarana serta tenaga bagi petani di lahannya cukup teratasi dengan adanya burung hantu ini.

Ditulis Oleh : DAA. Pertiwi ( POPT Ahli Muda Dinas Pertanian DIY )
( Disunting dari Berbagai sumber )

... DISTAN GMAP ...